Monday, October 19, 2009

Namaku Raihana (versi lengkap)

Namaku Hana, Raihana Azka Philiadesfa lengkapnya. Berat 2.2kg, tinggi 45cm.
(Ayah dan Bunda sering panggil “ayang” padaku, itu panggilan kesayangan katanya)
Aku lahir di RS. Krakatau Medika Cilegon melalui operasi Sectio Caesaria (SC). Sebabnya, leherku terlilit tali pusar 2 putaran, trus ketuban Bunda dah pecah duluan, selain itu berat badanku kurang dari normal, cuma 2150gr (berdasarkan hasil USG terakhir), menyebabkan resiko persalinan normal menjadi besar. Ditambah lagi, setelah 10 jam ketuban Bunda pecah, ternyata jalan lahirnya baru terbuka 1cm. Jadilah lengkap untuk membuat persalinan normal menjadi sangat beresiko.

Kata Ayah, saat itu Ayah bingung untuk memutuskan, karna kondisinya sangat mendesak. Perlu keputusan CEPAT yang TEPAT.
Klo Ayah dan Bunda, inginnya Aku lahir normal, karna dengan itu Aku bisa langsung ‘kontak dini’ dengan Bunda, dan ASI bunda bisa segera mengalir buat ku. Menurut dokter, bisa saja Bunda melahirkan normal, tapi dengan resiko yang sangat besar, resiko untuk Bunda dan juga buatku. Untuk Bunda tentu rasa sakit yang berlipat, jika diusahakan normal tapi pada akhirnya operasi, buatku, kondisi lahir kemungkinan besar lebih buruk, berdaasarkan kondisi-kondisi yang ada.
Singkat cerita, setelah diskusi dengan dr. Priyono dan dr. Akam (via telp) akhirnya diputuskan untuk melakukan persalinan dengan operasi. Sebelumnya Ayah sempat linglung untuk memutuskan, karna sebenarnya dokter tempat Bunda periksa rutin adalah dr. Akam, sedangkan saat itu dr. Akam sedang di Lampung, dan yang ready adalah dr. Priyono. Jelas aja Ayah linglung, soalnya sempat miss-coomunication dengan dr. Priyono, tapi alhamdulillah Ayah bisa ikhlas, untuk kemudian mempercayakan semua proses persalinan pada tim dokter rumah sakit.

Saat itu suasana jadi haru banget, soalnya Nenek (Mama nya Bunda) takut banget sama yang namanya operasi, jadinya Ayah lagi deh yang kebagian ‘jatah’ untuk menenangkan Nenek, sekaligus memberi pengertian kepada Bunda untuk ikhlas dan kuat untuk lewati operasi. Hanya saja, ternyata Bunda gak bisa menahan diri saat masuk kamar operasi dan ‘berpisah’ dengan Ayah. Padahal tadinya Ayah mau temani Bunda untuk lewati persalinan. Sayangnya pihak rumah sakit tidak membolehkan Ayah untuk menemani Bunda karna persalinan dilakukan dengan operasi.

Jadilah Bunda ‘berpisah’ sambil menangis…Ayah pun mencoba untuk kuat menghadapi kondisi ini…berdo’a dan serahkan semua pada Allah. Ayah sering bilang ma Aku, bahwa Allah itu sayang sama Aku, sayang sama Ayah, juga sama Bunda. Saat itu Ayah bisa kuat karna Ayah juga yakin bahwa Allah gak akan memberi cobaan yang tidak kuat dihadapi oleh Ayah dan Bunda.
.
.
.
.
Proses operasi berlangsung.
Ayah dan Nenek duduk di ruang tunggu, katanya agar mudah dihubungi jika ada perkembangan proses operasi.
.
.
.
.
(Sekitar 20 menit kemudian…ada kereta bayi didorong agak cepat oleh seorang perawat, lalu perawat itu menyapa Ayah..)

“Pak..ini anaknya….!!”

ALHAMDULILLAHIRABBIL ALAMIIN…


Entah apa yg dirasakan Ayah saat itu, yang pasti Ayah langsung mengikuti kereta bayiku dengan langkah cepat dan bersemangat. Tak ketinggalan, senyum syukur terpancar di wajah Ayah.
Subhanallah…walhamdulillaah…wa laa ilaaha illallaah..wallaahu akbar…

Tak lama kemudian, setelah perawat membersihkan tubuhku, lalu diperiksa oleh dr. Ma’as (yang menyatakan bahwa nilai apgar-ku sangat baik), Ayah dengan cekatan menggendong dan memelukku, kemudian menciumku dengan lembut. Lembut tetapi sangat mantap terasa dekapan Ayah. Segera Ayah lantunkan Adzan dan Iqomat. Sederhana suaranya, tapi sangat kental haru, harap dan cinta Ayah kurasakan. Setelah itu tak jelas kurasakan, sayup-sayup kudengar Ayah ucapkan beberapa kalimat padaku. Mungkin ungkapan rasa syukur dan do’a yang disampaikan pada Allah untukku….

Segera setelah ’sesi khusus’ denganku Ayah kembali ke ruang tunggu. Tentu untuk menunggu perkembangan kabar tentang Bunda yang masih di ruang operasi. Cukup lama Ayah menunggu namun tak ada kabar dari petugas rumah sakit. Padahal proses persalinan sepertinya sudah selesai (itu dalam benak Ayah, Ayah bilang begitu padaku). Tak lama, Ayah melihat dr. Priyono dan bergegas menghampirinya. Dalam kekhawatiran yang cukup besar, ternyata dr. Priyono justru langsung mengantar Ayah dan juga Nenek (yang sedari tadi menangis sedih dan khawatir) menuju ruang recovery pasien operasi. Tak disangka, ada Nenek satu lagi (Mamanya Ayah) yang justru sudah terlebih dahulu bersama Bunda. Ternyata Bunda sudah bisa dikunjungi sejak tadi, hanya saja tidak ada petugas rumah sakit yang menyampaikannya pada Ayah dan Bunda.
Jelas saja, rasa haru, khawatir, senang, takut, bingung dan juga lucu bercampur saat itu. Soalnya Nenek yang satu lagi (mama nya Ayah) yang datang dari Jakarta justru bisa duluan ketemu Bunda, padahal Ayah dan Nenek (mamanya Bunda) hanya berjarak beberapa ruang dengan Bunda. Belum lagi, ternyata ada Om Ihsan juga yang sejak tadi duduk satu ruangan dengan Ayah dan Nenek…..

Ya Allah Yang Maha Kuasa
Ku mohon jagalah Aku dalam genggamanMu
Agar panjang usiaku
Agar sehat ragaku
Agar jernih pikiranku
Agar kuat jasmaniku
Agar tepat ibadahku
Hanya karena Mu…Hanya pada Mu…

———————————————-
Ayah…Bunda…I LOVE YOU SO MUCH……

No comments:

Post a Comment